Header Serambi Naqiibah

Rumah di Tengah Hutan (6)

5 comments
Konten [Tampil]

Bapak hanya diam dan langsung masuk rumah untuk mandi dan salat asar berjamaah. Malam itu mbakku yang sedang gelisah dan bingung tapi tak ingin membahas kejadian tadi sore hanya terdiam.

Rumah di Tengah Hutan (6)

"Sudah, ndak apa-apa Nduk. Selama dia tidak mengganggu kamu, kan?" Bapak paham terhadap gelagat anak perempuan satu-satunya itu. 

Mbakku yang malam itu tidak bisa tidur akhirnya memutuskan untuk mencuci baju sebelum besok balik ke perantauan. Hobi kakakku yang paling cantik itu sering memutar lagu di sela-sela aktivitasnya.

Malam itu, dia mencuci baju ditemani dengan lagu dari Godfather of Broken Heart, alm. Didi Kempot. Di tengah-tengah mencuci sampailah pada lagu Ketaman Asmoro yang merupakan salah satu lagu favorit mbakku ini.

"Saben wayah lingsir wengi (Setiap menjelang malam)
Mripat iki ora biso turu (Mata ini tidak bisa tidur)"

Tiba-tiba saja di loteng rumah, tepat di atas kamar mandi tempat mencuci baju ada suara tetabuhan yang awalnya tak teratur. Dan kemudian mulai teratur mengiringi lagu yang sedang diputar mbakku tersebut. Sontak saja, mbakku berhenti mengucek bajunya dan memperhatikan lagi pendengarannya. Memastikan kali ini tak ada yang salah dengan inderanya.

Benar, suara tetabuhan di atas loteng mengiringi lagu favorit mbakku tersebut. Dengan iseng, mbakku mematikan lagu tersebut. Lalu suara tetabuhan pun ikut berhenti.

"Wow, kalian mau ikut campur sarian ini? Coba ganti lagu luar yang agak ngebit ah, biar tabuhannya makin asoy" gumam mbakku jail. 

Tak lama kemudian, digantilah dengan lagu Ignorance dari Paramore. Tabuhan yang awalnya masih berbunyi dan tidak teratur bunyinya, tiba-tiba berhenti begitu saja. Tak ayal, mbakku tertawa puas sendirian ngerjain mereka yang sedang tabuhan.

"Hmmm, mamamm...", bisiknya sambil melanjutkan membilas cuciannya dengan senang. 

Setelah selesai dengan cuciannya pun, akhirnya mbakku bisa tidur dengan nyenyak. Dan ternyata cerita ini hanya disimpan mbakku sebelum diceritakan kepadaku hari ini. Aku kembali tercengang menyimak cerita yang disimpan mbakku tersebut.

"Jadi memang benar kata bapak kok, Dik. Selama mereka tidak mengganggu kita ya udah nggak apa-apa. Anggap saja memang mau berteman dengan kita, haha. Dah, ya. Assalamualaikum.", tutup telepon mbakku. Aku pun mengangguk setuju dengan kalimat bapak tersebut.

Dua bulan selanjutnya, aku baru pulang ke rumah lagi. Aku tak sabar menunggu ada peristiwa apa lagi dengan mereka yang selalu menyambutku dan mengajak bermain-main, haha.

Sementara itu, bapak bercerita selama kutinggal, induk ayamnya ada yang mau mengerami. Akhirnya disiapkan bapak tempat untuk mengerami telur-telurnya. Jadi aku pulang sambil menyiapkan kandang untuk anak ayam yang menetas nantinya.

Siang itu, aku sedang asyik menyiapkan kandang anak ayam di atas, dekat tangga menuju tempat jemuran, sementara tepat di bawah tangga ada tukang yang sedang memperbaiki pompa air. 

Menjelang sore, aku mengintip ke bawah, apakah tukang yang memperbaiki pompa masih ada, karena aku merasa sungkan untuk melewatinya. Saat mengintip ke bawah, yang kulihat malah hal lain. Sepasang betis berwarna hitam yang sedang berjalan keluar menuju pintu belakang.

Aku terhenyak kaget, dan melongok kembali sudah tidak ada. Aku pun menjerit, "Buk... Ibuuuk..."

Ibuku menyahut dari ruang keluarga, "Iyaa, ada apa, Nak?"

"Tukang pompanya sudah pulang, Buk?"

"Loh sudah dari tadi, ndak lama kok pak tukang benerin pompa tadi." 

Bulu kudukku serentak merinding. (bersambung)



Episode 1: Rumah di Tengah Hutan (1)

Episode 2: Rumah di Tengah Hutan (2)

Episode 3: Rumah di Tengah Hutan (3)

Episode 4: Rumah di Tengah Hutan (4)

Episode 5: Rumah di Tengah Hutan (5)

Episode 6: Rumah di Tengah Hutan (6)

Episode 7: Rumah di Tengah Hutan (7)

Naqiibatin Nadliriyah
Halo! Saya Naqi. Pembaca buku yang menulis beberapa topik di Serambi Naqiibah. Diantaranya tentang ulasan buku maupun film, tips, fiksi, finansial, dan review produk teman :)

Related Posts

5 comments

  1. Bikin penasaran nih... Siapakah si betis hitam itu? Cuss ah baca lanjutannya

    ReplyDelete
  2. ini nih yang bikin bergidik kalau bacanya malam hari. Untung Kubaca siang hahaha.
    Tapi sendirian euy, Ku masih juga takut.

    ReplyDelete
  3. sedikit seram diatas , yang membuat aku takut mbak. hhhhe. dan ini cerita yang berantai ya, masha allah

    ReplyDelete
  4. Kudu segera baca lanjutannya di chapter 7 nih biar ga penasaran

    ReplyDelete

Post a Comment