Header Serambi Naqiibah

Kenalan dengan Komunitas Gerakan One Week One Book (OWOB)

16 comments
Konten [Tampil]

Dari kecil aku suka membaca, apalagi baca buku fiksi, mulai dari puisi, cerpen, komik, novel atau sastra. Namun seiring berjalannya waktu aku juga menyukai buku tentang sejarah, memoar, biografi, self improvement, juga agama islam. 

Dan sampai saat ini aku sangat menjunjung tinggi kebebasan membaca. Apa pun yang kau baca, tolong tidak usah merasa tinggi hati bacaannya lebih baik daripada bacaan orang lain. Karena setiap buku memiliki pembacanya masing-masing. 

Apalagi saat bergabung dengan sebuah komunitas. Kita akan bertemu dengan pembaca berbagai jenis buku. Rasa toleransi dan saling menghargai akan selalu terpupuk. Kali ini aku akan bercerita tentang komunitas Gerakan One Week One Book (OWOB) dan pengalamanku bersamanya.

Kenalan dengan Komunitas Gerakan One Week One Book (OWOB)


Awal Pertemuan dengan Gerakan One Week One Book

Saat itu aku sedang penat, bosan dan merasa insecure menggunakan akun instagramku @naqiibah. Tepatnya setelah lulus S2 tahun 2018. Perasaan ingin menghilang dari peredaran dunia maya semakin menjadi-jadi. Akhirnya menghabiskan di rumah beberapa minggu dengan melahap bacaan yang jadi timbunan selama ini. 

Bayangkan saja, satu lemari penuh dengan buku. Untung bapak ibuku tidak berkomentar lebih lanjut atas koleksi buku-buku yang lebih banyak buku fiksi daripada nonfiksi, apalagi buku agama islam. Bisa dihitung jari, hehe. 

Dulu memang ibuk pernah bergumam, buku segini banyak kok anaknya ndak ada yang mengikuti jejak bapaknya, bisa baca kitab kuning khas pesantren itu. Aku dan saudaraku seperti reaksi biasanya, tiba-tiba sunyi senyap.

Nah, setelah lulus S2, sambil menunggu pengumuman CPNS, aku membuat akun instagram khusus untuk berbagi bacaan buku. Lebih ke catatan untuk diri sendiri aja, buku yang sudah kubaca tentang apa. 

Kenapa tidak kugabung dengan akun instagram yang itu saja. Kembali dengan kondisiku yang sedang ingin menghindar dari keramaian saat itu. Tapi ternyata beberapa teman dekatku tetap mengetahui akun baruku itu, haha. Akhirnya mengalirlah sampai sekarang, bahkan ada tiga akun malah, haha.

Nah, tepat setelah aku memposting hasil bacaanku pertama di akun @naqi.reads pada tanggal 1 Desember 2018, kebiasaanku penelusuran tagar sambil mencari teman baru akhirnya mengantarkanku bertemu dengan akun @gerakan_1week1book. Kurasa menarik jika aku bergabung dengan komunitas ini, saat aku butuh teman untuk menghabiskan timbunan yang ada di lemari.

Kemudian aku putuskan untuk menjadi member komunitas membaca ini dengan merepost banner member keesokan harinya, tanggal 2 Desember 2018. Yang aku tahu, saat itu, setiap pekan kita tinggal posting ulasan buku yang sudah dibaca di instagram dengan tag akun OWOB. Akan tetapi ternyata ada rentang tiap pekannya per bulan. Pekan pertama tanggal 1-8, pekan ke-dua 9-15, pekan ke-tiga 16-22, dan pekan terakhir 23-akhir bulan. Nah mulailah aku jatuh cinta dengan komunitas ini dan mengikuti segala kegiatannya di grup WhatsApp. 

rekam jejak sertifikat Consistent Reader Challenge


Komunitas Gerakan One Week One Book

Komunitas Gerakan One Week One Book merupakan komunitas berbasis online yang mengajak untuk membaca minimal satu buku dalam seminggu. Komunitas ini didirikan Lintang Indra Listika yang akrab disapa kak Lintang pada tanggal 4 Januari 2018.

Yang kusuka dari komunitas ini adalah komunitas nonprofit, jadi tidak menerima iklan berbayar atau jualan, sehingga para orang-orang di baliknya pun ikhlas beramal. Eh, semacam tagline sebuah lembaga ya, hehe. Meskipun begitu tawaran kerjasama media partner acara literasi atau giveaway dan lain sebagainya terbuka selebar-lebarnya, asal bukan komersil tentunya.

Dalam komunitas Gerakan One Week One Book, setiap member yang terdata menyetorkan ulasan buku yang sudah dibaca dalam sepekan. Nah, setiap bulannya akan ada rekap data yang terkumpul dalam presensi member komunitas Gerakan One Week One Book.

Untuk member yang tiap pekannya setor dalam sebulan akan mendapatkan sertifikat elektronik, dan pembaca terbanyak akan mendapatkan hadiah dari pihak sponsor. Kok adminnya kurang kerjaan banget ya mendata ulasan member tiap bulan per pekan yang jumlahnya ±200 orang itu. Iya, aku juga merasa demikian. Tapi demi apresiasi Komunitas atas konsistensi member, rasa lelah itu ternyata lenyap begitu saja. 

Dengan mengusung tagline yang sesuai nama komunitas, membaca buku minimal satu buku dalam satu minggu, kegiatan utama yaitu setoran ulasan tiap pekannya di akun instagram. Di samping itu, komunitas ini juga sering mengadakan Baca Bareng, diskusi tentang buku dalam bentuk OWOB Bahas Buku dengan pengulas dari member, OWOB Bincang Buku dengan narasumber dari penulis dan OWOB Bincang Literasi dengan narasumber pihak terkait.

Tentang komunitas Gerakan One Week One Book (OWOB)

Tak hanya itu, upaya mendukung kegiatan literasi juga turut dilakukan komunitas Gerakan OWOB ini sebagai media partner acara literasi yang tentunya tidak komersil. Kerjasama yang pernah digandeng yakni dengan i-Jakarta, iPusnas, IDN Times, aplikasi Cabaca, Kawan GNFI dan yang sekarang digandeng Penerbit Haru pada acara Rumah Pembaca dalam rangkaian Festival Buku Asia besok tanggal 10 September 2021.

Meskipun siapa pun bisa bergabung dengan bebas, komunitas ini memiliki aturan untuk memudahkan member dan admin yang mengurusnya. Aturan ini meskipun terlihat banyak, sebenarnya simple dan logis kok, seperti saat akun ganti nama ya paling tidak konfirmasi ke admin agar data dalam presensi diubah.

Atau yang lebih krusial, akun member jangan digembok. Karena akun komunitas tidak mungkin mengikuti akun member sebanyak itu, jadi admin akan menganggap tidak setor ulasan. Ya secara logika lah ya, admin mana tahu kalau akunnya ganti atau setor ulasan kalau akun digembok, karena admin bukan Tuhan yang Mahatahu. *oke ini curhat.

Menjadi Member dan Admin OWOB

Setelah setahun menjadi member dan asyik mengikuti kegiatan dalam Grup WhatsApp OWOB Readers baik diskusi atau kelas baca yang sekarang ditiadakan dulu, aku dibujuk untuk menjadi admin atau orang di balik layar komunitas kesayangan ini. Tapi sayangnya, aku masih trauma dengan hal-hal yang berbau admin komunitas. Masalah klise, tidak bisa membagi waktu dengan baik. 

Sebelumnya aku beberapa kali menjadi admin media sosial pada beberapa komunitas, di antaranya komunitas Sahabat Beasiswa dan beberapa akun instagram lainnya. Dengan berat hati, aku menolak todongan halus dari 2 admin saat itu.

Tak lama kemudian dari todongan halus tersebut, ternyata dibukalah pendaftaran admin baru OWOB via akun media sosialnya. Detik-detik terakhir penutupan pendaftaran admin, diriku malah tergerak untuk mendaftar, nyahahahaaa. Mungkin saat itu, kedua admin yang pernah membujukku sedang menertawakanku. Maap Mbak Ji dan Kak Uta, aku lebih memilih jalur umum daripada jalur orang dalam不. 

Tepat saat bulan ulang tahunku pada tahun 2020, aku resmi menjadi admin komunitas Gerakan OWOB bersama kak Affit dan kak Rin. Aku anggap itu kado dari komunitas yang mempercayakanku sebagai abdi ndalem, mwehehe.

Setelah itu, saat awal aku masih diberi kesempatan magang bagian desain sama menjadi admin Fanspage Gerakan One Week One Book. Hingga akhirnya sampai sekarang menjadi bagian desain dan presensi membantu kak Mia. Selain kak Mia dan diriku, admin yang sekarang masih ada kak Lintang, kak Affit, kak Novia, dan kak Lia.

Suka duka? Banyak dukanya sepertinya, utamanya tentang segala tingkah para member haha. Mulai dari username yang sangat unik dan berganti-ganti hingga setoran yang terkadang kurang sesuai dengan aturan. 

Kalau sukanya, saat member mengapresiasi komunitas, menyebut atau mengenalkan akun komunitas di tempat umum. Berasa menjadi keluarga besar :").

Selain itu, sebelum pandemi, kebetulan aku yang masuk grup OWOB regional Jawa Timur tak jarang mengadakan meet up sesama member hanya dengan agenda tukar buku, ikut kegiatan literasi seperti Patjar Merah atau ngobrolin komunitas. 

Meet up bersama member OWOB

Terima kasih Komunitas kesayanganku, Gerakan One Week One Book. Darimu aku belajar banyak hal, menemukan teman-teman hebat yang saling support, ghibah buku, dan tentunya saling meracun buku. Haha. Sehat-sehat kalian. 

Untuk kalian yang tertarik bergabung, bisa kepoin dulu di akun @gerakan_1week1book, baca selengkapnya dan teliti di sorotan Tentang OWOB atau baca aturannya tadi. Selain itu juga bisa berkunjung di websitenya untuk tahu kegiatan komunitas. Salam literasi!


Naqiibatin Nadliriyah
Halo! Saya Naqi. Pembaca buku yang menulis beberapa topik di Serambi Naqiibah. Diantaranya tentang ulasan buku maupun film, tips, fiksi, finansial, dan review produk teman :)

Related Posts

16 comments

  1. Aku ngguyu Qiii aku ngguyuuuu! Wkwkwkwkwk. Makasii yaaa udah bersedia meneruskan perjuangan di OWOB. Uwww insyaAllah jadi amal jariyah aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh ada mbak jihan不不不不. Makasih banyak loh mbakji udah mampir sambil ngetawain. Ayo ngopi cantik, mbak. Dah kangen Caca akuuu. Tapi di mana?

      Delete
  2. Replies
    1. Makasih, Kak Sakii. Kita semua keren pada tempat masing-masing kok. :)

      Delete
  3. Pengen banget ikut beginian, tapi kok takut gak bisa konsisten...

    Btw, bukunya harus fisik kah, atau bisa baca online?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bebas, Bundaa. Asal bukunya original bukan bajakan kok :)

      Delete
  4. Waaah mba naqi kereeen. Lebih susah konsisten mana mbak: baca satu buku satu minggu atau posting satu artikel di blog tiap hari? Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang susah itu konsisten pada komitmen apapun, Mbak Il.. :3

      Delete
  5. Wah, komunitas keren
    Tetep semangat menulis kak

    ReplyDelete
  6. Sulit banget buat konsisten menyelesaikan baca satu buku dlm waktu satu minggu :(

    ReplyDelete
  7. Saya senang membaca, tapi jarang konsisten satu buku 不 biasanya sekali beli bisa 6-10 buku kadang lebih, habis dibaca biasanya 4 atau kadang bisa hampir setahun. Masalahnya saya susah untuk konsisten sama satu buku .

    ReplyDelete
  8. Jadi diiming-iming gabung komunitas lain secara halus seperti ini ya rasanya kak. Hehe. Tapi boleh lah jadi referensi buat ikutan. Keren kak Naqii semangatnya

    ReplyDelete
  9. Kalau Kak Naqi ingin menghindari dunia online, aku malah sengaja masuk ke online wkwkkw

    ReplyDelete

Post a Comment