Header Serambi Naqiibah

Enaknya Berdebat Dengan Orang Goblok

22 comments
Konten [Tampil]

Kurasa hampir setiap orang zaman sekarang lebih suka dan lebih mudah komentar terhadap isu apa pun, meski bukan bidang yang dia geluti. Ajaibnya, mereka ini berkomentar seakan-akan paling paham dan mengerti, padahal dia juga modal copas atau baca selintas dari berita yang melintas di beranda media sosial. Sehingga tanpa sadar, info hoax ikut disebarkannya.

Tak heran sampai ada ujaran matinya kepakaran. Ya karena sekarang berbagai isu bisa diakses dengan mudah pada Mbah Google. Dan sialnya yang diketahui hanya dari Google yang entah kebenarannya kurang bisa dipertanggungjawabkan, namun mereka sudah merasa serba tahu. Sudah gitu ngeyelan pisan! Hadeh.

Kali ini buku rekomendasi dari aku, Enaknya Berdebat Dengan Orang Goblok. Simak ya.

Ulasan Buku

Blurb

Di antara menyapa dan mengajak, Puthut EA merentangkan tulisannya sedari dunia bisnis hingga stigma ideologis yang telanjur mengendap dalam dunia sehari-hari setiap kita, setiap para pembaca, sehingga kita mendapati hal yang nampak selalu akrab dari setiap tulisannya: gaya bertutur yang sederhana dan logika pemikiran yang "mengejutkan". 

Lima puluh tujuh esai yang dikumpulkan dalam ‘Enaknya Berdebat dengan Orang Goblok’, selain memaparkan kedekatan Puthut EA dengan pembacanya, juga menunjukkan usaha seorang penulis untuk tidak pernah berhenti berproses dan bersetia dengan teks. Selamat Membaca!

Identitas Buku

Identitas buku ini bisa dilihat di bawah

Judul: Enaknya Berdebat Dengan Orang Goblok
Penulis: Puthut EA 
Penerbit: Penerbit Shira Media
Tahun Terbit: 2019 
Tebal halaman: 236 hlm
Genre: Social Science
ISBN: 978-602-5868-50-4
Harga: Rp69.000,00 (P. Jawa)

Enaknya Berdebat Dengan Orang Goblok

Ulasan

Buku ini berisi esai-esai Puthut EA yang berbicara tentang banyak hal: ketimpangan antara desa dan kota, sikap fasistik intelektual zaman now, Gibran Rakabuming, bisnis pocong di era digital, Rocky Gerung, Ahmad Dhani, Agus Mulyadi dan PKS, dan banyak hal lagi tema-tema esai yang cukup menggelitik tapi cukup menarik untuk dibicarakan. Satirnya keterlaluan, Mas. Hehe.

Untuk covernya aku tergelitik, dalam sebuah gelas, manusia dengan kepala udang (mungkin artinya manusia berotak udang). Sebuah kiasan untuk orang yang sukar mengerti atau bodoh maksimal.

Kalau dilihat pada seekor udang, kepalanya itu kan berada di bagian belakang dekat dengan punggungnya. Dan seringkali dibuang karena sangat bau. Ya bagaimana tidak bau, isi kepala udang itu seperti isi pencernaan perut manusia yaitu kebanyakan berupa organ-organ pencernaan. 

Nah, jika ada manusia yang berpikir berdasarkan perutnya atau hawa nafsunya, tidak menggunakan otaknya untuk memilih baik atau buruk, halal atau haram, dan sebagainya, maka tak heran jika ada yang menyebut otak udang.

Esai yang menurutku paling menggelitik adalah yang sesuai dengan judul buku. Hal ini mengingatkanku akan masa lalu diriku yang suka meladeni perdebatan di media sosial, heuheuheu. Sekarang? Jangan tanya, cukup pantau saja. Membuang-buang waktu dan energi dengan sia-sia saja.

Tidak bisa dipungkiri lagi, kita dihadapkan pada era sarjana Google yang hasilnya bisa dilihat saat mereka berargumen di media sosial. Semakin menggebu mereka mendebat, semakin tampak kedangkalan berpikirnya.

Dengan modal Google saja mereka berani mendebat dengan keras, tentu saja tanpa adab. Orang yang berilmu tidak akan meninggalkan adabnya. Orang yang beneran menimba ilmu secara langsung dengan seorang guru pasti akan memiliki adab.

"Cah bosok kok mbok urusi, Mas..."komentar teman saya. "Eman-eman energimu...".

"Iki aku pas sela kok Dik. Sesekali nyedekahi fakir pikir kan gak apa-apa... Siapa tahu itu juga bentuk sedekah. Sambil sesekali mencoba merenung dan mensyukuri hidup ini. Bersyukur karena tidak goblok seperti dia. Sudah goblok, ngeyelan, tapi masih pede bisa cari makan dari kegoblokannya." (hlm. 19)

Penutup

Terakhir, mas Puthut dalam buku ini mengingatkan bahwa jika bertemu dengan orang semacam itu, tak usah diambil pusing. 

"Bagi banyak orang, berdebat dengan orang goblok itu mengesalkan. Kadang saya juga merasa begitu. Sebab otak mereka seringkali di bawah rata-rata, dan niat berdebatnya bukan untuk mencari kebenaran.

Kalau menghadapi orang seperti itu, begitu dibantah pasti berbelok ke arah lain. Karena sejak awal, tidak ada niat yang beres di otaknya. Tapi apa pun itu, berdebat dengan orang goblok, apalagi yang menggebu, tak usah diambil pusing. Dibikin gampang saja. Lebih dari itu, harus bisa mendapatkan hiburan dari sana. Plus bonus. Misalnya, paling tidak, jadi tulisan ini." ~Puthut EA

 

Naqiibatin Nadliriyah
Halo! Saya Naqi. Pembaca buku yang menulis beberapa topik di Serambi Naqiibah. Diantaranya tentang ulasan buku maupun film, tips, fiksi, finansial, dan review produk teman :)

Related Posts

22 comments

  1. bahaha, liat permailinknya langsung cuss kemari :D cocok nih buat orang yang "kantem pikir" atau isitilahnya banyak pikiran gara-gara meladeni omongan tetangga yang tidak-tidak :D nice sharing Kak Naqi, wish list buku lagi nih setelah yang sebelumnya belum nemu, eh ada ini lagi :D wkwkw

    ReplyDelete
  2. Baca quote nya saja menarik ya mbak. Dan isinya kayaknya menggoyang lidah ini. Butuh cuek utk menangkal omongan pedas

    ReplyDelete
  3. Hahahahaha menarik bgt. Selalu suka buku2 tipe gini. Yang deep thaught dan ada hal yg menggelitik. Jadi diingetin juga kalau debat sama orang rese nggak usah diambil pusing. Percuma ya mba, jadikan hiburan :')

    ReplyDelete
  4. Mangkel ga sih kalau berdebat dengan orang g*bl*k itu. Filosofi 0tak udang itu mengingatkan tentang asal mual istilah g*"bl*k versi temanku.

    Katanya gob**k iti berasal dari kata go dan block jadinya go block. So ngapain debat sama orang yang otanya terkunci dari pemikiran benar ckckck

    ReplyDelete
  5. Jujur seperti terwakli :D :D
    Saya pernah baca atau denger,
    Berdebat dengan org bodoh, berarti kita jauh lebih bodoh ...

    ReplyDelete
  6. Wah... Buku ini benar-benar menohok.. Fakta itu.. Fakta.. Sudah banyak terjadi perdebatan sengit unfaedah dan tak punya dasar 😁

    ReplyDelete
  7. Judulnya sangat menarik sekali. Essai satir dan sarkasme selalu renyah untuk disimak dan direnungi bersama, apalagi tentang kondisi-kondisi aktual di negeri kita ini. Recomended nih bukunya

    ReplyDelete
  8. Menarik menarik, banyak ditemukan seperti ini, ketika ditunjukkan sesuatu itu salah baru akan mengalah, "wong aku ga ngerti". Lah ga ngerti ko dipelihara

    ReplyDelete
  9. Relate bgt ini mba, aku klo dah tau watak orangnya ya udah bhay aja, ku dengerin aja masuk kuping kanan keluar kuping kiri sambil hahahihi

    ReplyDelete
  10. Aku jadi mupeng nih sama buku ini.

    Wah wah mulai dari personal hingga partai di bawa.

    Pks kok fenomenal sih padahal kan partai banyak hahahaa

    Oke, aku ingin baca buku ini. Menarik buat aku yg suka jenuh.
    Tapi kalo nlbaca novel malah gak mood

    Buku ini bisa jadi moodbooster nih. Sebab aku adanya guri goblok ketemu murid goblok
    Karya pak imam supriyono

    ReplyDelete
  11. Judulnya mantap sekali, jadi pingin ikutan baca nih. Emang nggak ada akhirnya ya kalo debat sama orang jahil, malah bikin naik darah kalau diladenin hihi.

    ReplyDelete
  12. jadi pingin baca bukunya. kenapa ya go block sama ngeyelan itu biasanya satu paket hehehehe

    ReplyDelete
  13. Cover bukunya aja sudah sangat memikat. Apalagi isinya ya... Ulasan Mbak Naqi tentang buku ini berhasil memancing rasa penasaran pembaca. Bikin baper

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh ketahuan nih Pak Dokter juga suka baper...ckck

      Delete
  14. Ya kadang emang niat orang model begini emang bukan mencari kebenaran, tapi cinta pertikaian. Hmm sehingga muncul slogan netizen "kami cinta pertikaian"

    ReplyDelete
  15. suka banget sama judul bukunya. bikin orang penasaran. ditambah ulasan mb naqi jadi pengen baca juga.
    baca quote yang mb naqi angkat, jadi ketawa sendiri dan makin penasaran hahah

    ReplyDelete
  16. Puthut EA memang jos kalau sudah membahas sindiran, satire, sarkasme pada setiap karyanya. Menggelitik untuk dijawil, dibaca, dilahap, dan termenung oleh satirenya.

    ReplyDelete
  17. Jadi pengen baca, aku suka ini. Ntar nyari deh bukunya. Terima kasih reviewnya mbak Naqi.

    ReplyDelete
  18. Jangan menjadi lebih bodoh di depan orang bodoh. Menarik bgt mbak ulasannya. Jd pengen baca bukunya nih.

    ReplyDelete
  19. Sepertinya bagus nih bukunya kak, emang kadang ada rasa kesel, anyel, mangkel kalo debat sama orang yang mungkin cara berpikirnya agak unik.

    ReplyDelete
  20. Menarik banget buku ini. aku udah lama bikin wishlist buku kepala suku mojok ini mba, thanks mbaa sudah share ulasannyaaa

    ReplyDelete
  21. Sempat kaget baca judulnya, eh ternyata review buku.
    Suka nih baca esai kayak gini. Insyaallah cari ah

    ReplyDelete

Post a Comment