Header Serambi Naqiibah

Kak Pud Tidak Gila (eps. 1)

Post a Comment
Konten [Tampil]

 “Sampai sekarang kak Pud masih belum pulang, Buk.” telepon Mas Falah malam itu dengan sedikit panik kepada ibuk yang tengah sibuk menemani murid-muridnya dalam acara lomba pekan TK/PAUD se-kecamatan di desa tetangga sebelah timur desaku. Terdengar ibuk menghela napas yang cukup panjang.

“Ditunggu saja sejam lagi, paling tidak sampai jam 9 malam sambil cari ke rumah Cak Mif atau Mbak Ning. Barangkali tadi ke sana”, saran ibuk setelah sekian detik. “Besok lusa pagi ibu baru bisa pulang,” imbuh ibuk di ujung telepon. Aku yang sedang belajar untuk UTS besok, mengabaikan kecemasan kakakku yang terlihat nyata. 

“Tadi siang aku dikasih tahu temanku, dia melihat kak Pud sedang berjalan ke arah desa tetangga tempat lomba pekan TK ibuk, Dek. Tapi aku mengabaikannya. Makanya aku telepon ibuk siapa tahu ibuk tadi melihatnya di sana. Aku takut nanti dia mengalami kejang lagi dan sedikit mengusik ketenangan lomba pekan TK di sana.” ucap Mas Falah sedikit bergetar. Suasana hening langsung menyergap kami.

Namanya Ahmad Fudhail, kami memanggilnya dengan kak Pud. Dia sepupuku. Anak dari kakak ibuku, dengan istri pertamanya yang sudah meninggal. Sejak kecil dia ikut dengan ibuku yang memang tinggal dengan Mbah Buk di desa pantura ini. Sementara pak de sudah tinggal di kota bersama istri kedua dan tiga anaknya yang lain.

Dari cara pandangku, yang kulihat hidup kak Pud agak menyedihkan. Kecelakaan ditabrak mobil membuatnya dia harus menghentikan kuliahnya di kota. Setelah kecelakaan itu, sarafnya ada yang tidak beres atau entahlah, aku tak begitu paham penjelasan ibuk saat itu. 

Padahal dari kesan para teman-temannya, kak Pud sangatlah pintar. Aku tahu pasti kepintaran kak Pud. Dia selalu menemani kami ketika belajar di saat bapak mengajar ngaji di pondok dan ibuk harus membuat adonan roti sebagai pekerjaan sampingan dari guru TK. Kak Pud bisa mengajari semua pelajaran dengan mudah dari pelajaran matematika sampai bahasa daerah yang ruwet dengan aksara Jawa. Membuatku bisa rangking 1 setiap catur wulan hingga semester yang kulalui. Oleh sebab itu juga, ia akhirnya membuka les pelajaran untuk anak-anak dari tetangga kami.

Cara mengajar kak Pud sebenarnya sangat sederhana, meminta kami membaca materi selama 20 menit sementara dia akan membuat soal latihan dari materi yang kami baca, terkadang dia membuat tebak-tebakan juga yang membuat kami asyik saat belajar. Latihan serta pembiasaan adalah kunci dari pengajaran kak Pud.

Setiap dia mendapat uang hasil pekerjaannya, hampir tiap bulan aku dan dua saudaraku diajak ke pasar untuk membeli majalah Bobo atau Donal Bebek. Tak jarang juga komik Doraemon atau Detektif Conan bisa kami nikmati. Meskipun seringkali dalam kondisi bekas, tapi masih bagus untuk dibaca.

Di desa kami tidak ditemukan toko buku. Penjual buku hanya ditemukan di pasar Wage, pasar yang buka setiap hari pasaran Wage. Itupun yang dijual banyak buku pelajaran, dan beberapa majalah atau komik bekas maupun bajakan. Namun, kak Pud saat itu sering bilang ke penjualnya untuk titip majalah atau komik baru tiap bulannya. 

Tak lain yang dilakukannya adalah untuk kebutuhan kami. Dari yang dilakukan kak Pud tiap bulan itulah, aku dan saudaraku menikmati bacaan yang asyik dan agak bergizi. Aku dan saudaraku paham dengan pasti, bapak ibu kami belum bisa membelikan kami buku bacaan yang untuk ukuran kami, harganya mahal. Untuk mencukupi makan sehari-hari aja kami di rumah sangat pas-pasan. Ada kebutuhan lain yang lebih penting daripada sekadar membeli bacaan.

Tahu tempe dan ikan laut yang murah di desa kami menjadi lauk sehari-hari kami. Jangankan minum susu, menikmati buah saja hanya saat pohon jambu depan rumah dan pohon mangga di kebun berbuah. Meskipun sesekali mendapat buah dari hasil rapat bapak/ibu di sekolah atau kiriman dari sepupu.

Tapi aku sangat bersyukur dengan ajaran bapak ibu untuk tidak memilih-milih apalagi membuang makanan dan makan apa yang tersedia di hadapanmu. Kebiasaan dari kecil ini lah yang membuat kami untuk lebih menghargai yang dimiliki dan tidak iri dengan apa yang dimiliki orang lain.

“Falah, kak Pud tadi malam udah pulang?” tanya Yu Tin, tetangga sebelah rumah kepada mas Falah. “Belum, Yu. Tadi malam aku cari di rumah Cak Mif dan Mbak Ning katanya seharian tidak ke rumah mereka” jawab mas Falah.

“Kemarin sore suamiku lihat dia di desa Sendang, masih terus berjalan ke arah selatan. Ditanyain diam saja sambil terus ngeluyur ke arah selatan.” sahutnya. “Wes gendeng paling yo (udah gila kali). Bolak-balik ayan ngunu” gumamnya kecil tapi cukup terdengar oleh mas Falah.

“Walah, Yu. Terima kasih informasinya. Tapi kak Pud nggak ganggu suami sampean toh?” ucap mas Falah sedikit geram. “Kok ngatain kak Pud gila.” lanjutnya sambil nyelonong masuk ke dalam rumah. Setelah itu, mas Falah langsung tancap gas mengajak temannya untuk mencari kak Pud hingga ke selatan desa Sendang seperti yang dikatakan yu Tin. Tapi hasilnya tetap nihil, kak Pud belum ditemukan.

 Keesokan harinya, ibuk pulang dari acara pekan TK yang sudah selesai, ibu dan mas Falah pun mencari kak Pud sambil pinjam sepeda motor tetangga. Tetap belum ada hasilnya maupun kabar dari orang yang melihatnya.

(bersambung)

Naqiibatin Nadliriyah
Halo! Saya Naqi. Pembaca buku yang menulis beberapa topik di Serambi Naqiibah. Diantaranya tentang ulasan buku maupun film, tips, fiksi, finansial, dan review produk teman :)

Related Posts

Post a Comment